Ketika Cinta Menyapaku


Cinta

Ketika cinta menyapamu, maka sering kali kau tidak bisa menghindar, pun tidak bisa mengelak. Tapi akankah kita pasrah atau kita kan berusaha mengendalikannya?? Akankah kita bisa melakukannya ??Pernyataan tersebut muncul di benakku, banyak hal yang kupikirkan tentang cinta. Ada yang bilang aku sedang jatuh cinta, ada yang bilang pula aku sedang kasmaran. Tapi ku yakin bukan itu jawabannya, hatiku berpaling ketika banyak yang mengatakan tentang perasaanku kali ini. Cinta… seperti apa sebenarnya cinta itu.

Semua orang berbeda persepsi dalam menafsirkan arti cinta yang sebenarnya, hingga cinta menimbulkan makna yang majemuk. Yang bahkan bisa ditafsirkan lain oleh seorang anak kecil yang polos. Salah seorang muridku umurnya masih 8 tahun dengan mudah mengatakan “ A mundzir aku teh sangat cinta sama si fulan”. Aku hanya sedikit menggodanya dengan 1 pertanyaan “Ari kamu teh tahu ga kalo cinta itu apa ?” Dia jawab dengan polosnya “Ya pokoknya mah sayang sayang we”. Aku hanya bisa tersenyum kecut mendengar semua itu.

Ada temanku seorang pujangga dengan kata bicara yang luar biasa mengatakan “Cinta itu ibarat mutiara dia akan tetap berkilau di siang dan malam hari”. Seorang temanku lagi berkata “Cinta itu buta, kadang kita bisa merindukan seseorang yang tak ingin kita rindukan.” Hmmm….

Dari semua pernyataan temanku belum jua kutemukan jawaban arti cinta yang sebenarnya. Sedang perasaan di hatiku semakin tiada menentu. Aku merasa mencintai seseorang dan dia pun mencintaiku sepertinya hampa. Ada satu hal yang ingin kucoba PACARAN, namun tetap saja hampa. Selalu ada yang kurang yang selalu ingin kudapatkan. Bukan kecantikan, keseksian, pengertian, kekayaan bukan bukan semua itu. Ada hal lain yang ingin kudapatkan, entah apa itu. Ingin kucari jawabannya, namun jalanku seperti terjal dan berliku untuk pergi ke sana.

Temanku berkata “Cinta… Ceritanya tiada akhir”. Aku renungkan kata-katanya tersebut. Hmm. Ya cinta memang memunculkan banyak cerita, tawa, haru, tangis, senyum, rindu, benci cemburu bahkan dendam dan lain sebagainya. Memunculkan pula banyak kenangan, baik itu kenangan indah maupun kenangan pahit yang butuh waktu lama untuk dilupakan. Memunculkan pula inovasi dan kreatifitas yang di luar jangkauan manusia. Memunculkan kata “BEBAS” melanggar batas dari apa yang telah ada.

Ketika aku masih sibuk mencari apa yang ku inginkan dari cinta, seorang temanku datang dengan senyuman bersama dengan istrinya. Kita berbincang dengan riang tawa. Ada satu kalimat yang sedikit menggugah hatiku. “Apa yang kau cari takkan pernah kau dapatkan sebelum dia sendiri yang mendatangimu”. Kapan itu  tanyaku. “Setelah kau menikah” dia pun tersenyum.

Di sini aku mulai berfikir dengan keras apakah memang aku belum bisa menemukan apa yang aku cari dari cinta sebelum aku menikah? Lalu aku pun mulai menerawang teman-temanku yang sudah menikah, begitu banyak kesusahan yang mereka alami, banyak sekali kesedihan sama seperti dengan pacaran kan bahkan mungkin lebih sukar hidupnya. Aku menerawang kembali, tapi aku selalu melihat raut-raut mereka yang bahagia dalam kesusahan mereka. Senyuman mereka selalu tulus menerima apa yang terjadi. Lalu apa yang membedakan nikah dengan pacaran. Aku coba merenung lalu kusimpulkan beberapa hal :

–          Setelah menikah ada teman untuk berbagi setiap malam yang tidak bisa kita dapatkan ketika pacaran, baik itu berbagi kesedihan,kesenangan maupun nikmat bathin.

–          Setelah menikah selalu memunculkann cerita baru karena semua sifat pasangan terbuka di sana, itulah yang membuatnya menyenangkan sepertinya mereka bisa berkata “Akhirnya aku bisa mentertawakan dunia”. Bandingkan dengan pacaran yang sehari-harinya yang kita lihat dari pasangan kita adalah kebaikan. Ya, kebaikan semu darinya. Yang sering kali membuat kita bosan dibuatnya.

–          Setelah menikah kita menemukan terobosan-terobosan baru, yang idenya muncul ketika masalah-masalah lucu yang terjadi diantara pasangan tersebut. Sedang pacaran bukan terobosan baru yang muncul namun rasa dendam karena semuanya sering berakhir dengan kata “PUTUS”.

–          Setelah menikah kita merasa aman dengan keluarga pasangan bahkan bisa saling berbagi. Bandingkan dengan pacaran yang untuk pergi berduapun harus sembunyi-sembunyi.

–          Sepertinya masih banyak.

Akhirnya aku berpikir bahwa yang kurang dariku adalah pasangan yang mau setia di sampingku, berbagi denganku selama 24 jam nonstop. Hingga bisa kuganding dia dengan mesra. Senyumanku hanya untuknya dan senyumannya hanya untukku. Aku berpikir bahwa aku pun ingin menjadi imam dalam tahajjudku tidak hanya sendiri. Sepi… ya mungkin ini jawaban yang kuinginkan. MENIKAH.

Namun kini timbul pernyataan dan pertanyaan lain di benakku. Aku belum siap untuk menikah, hatiku belum mantap masih ada yang mengganjal. Aku masih ingin melakukan banyak hal sendirian. Pertanyaannya bagaimana aku bisa mengendalikan perasaanku saat ini? Saat ini wajah indah sang bidadari menari nari di pelupuk mataku.

Temanku berkata pergilah yang jauh. Itu mungkin bisa sedikit membantu untuk melupakan cintamu. Namun jika ku pergi aku masih berpikir bisa jadi akan ada kasus yang sama terjadi di daerah yang akan ku datangi. Jadi pergi tidak menyelesaikan masalah apapun bagiku. Timbulkan pertanyaan lagi : Apakah PACARAN boleh kulakukan jika hatiku terus galau seperti ini ?? Namun jawabannya seolah dengan cepat muncul di benakku. Itu hanyalah sebuah PEMBENARAN bukan KEBENARAN yang bisa ku pertanggungjawabkan dan tentunya kubutuhkan.

Temanku yang lain menasihatiku untuk berpuasa sunat. Namun bagaimana aku  menjaga hati ketika sedang tidak puasa. Sekilat aku coba meraih Al-Quran kubaca dengan khusyu’ hingga tidak terasa sudah 1 juz. Tidak terasa pula air mata menetes dengan perlahan. Ku tengadah, kupejamkan mataku hingga muncul begitu banyak bayangan indaku di masa depan. Ya aku sudah menemukan jawabannya aku hanya tinggal FOKUS pada CITA-CITAKU yaitu menjadi MUJAHID yang berusaha menegakkanSYARI’AT dengan keindahan mengajar AlQURAN kepada semua lapisan MASYARAKAT hingga ku yakin bila pun aku tidak bisa MENIKAH saat ini di DUNIA SAAT INI namun ku yakin ada BIDADARIyang menungguku di SYURGA yang akan menemaniku SELAMANYA. Jadi semangat ^_^ dan jangn menyerah😀.

Perihal

Assalammu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh Salam kenal semuanya nama saya Irfan Mundzir Ramdhani. Biasa dipanggir Al-Mundzir. Subhanalloh akhirnya saya merampung blog terbaru saya. Saya ingin mencoba tuk bisa menjadikan blog ini sebagai media untuk menyalurkan semua apresiasi saya. Dan moga ini dapat menajadi sebuah motivasi saya agar bisa menjadi lebih baik lagi lagi lagi… Insya Alloh Blog Genggam Waktu ini akan terus terupdate untuk bisa mengisi kekosongan waktu. yang inginnya saya isi dengan puisi, informasi, tips, dakwah dan lain sebagainya. Kalo ada yang mau ikut sharing atau menyumbang artikel silahkan email saya aja… atau ke facebook saya dengan email al.mundzir@gmail.com. Syukron ya udah berkunjung… Wassalam

Tagged with: , , ,
Ditulis dalam celoteh, dakwah, pengalaman

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Coba Tuk Menggenggam Waktu

GENGGAM WAKTU

Blog Stats
  • 17,943 hits
Kategori
Translate
April 2011
S S R K J S M
« Des   Mei »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930  
Yang berkunjung sejak 26/11/2009
%d blogger menyukai ini: